TINTAJABAR.COM, JAKARTA – Anggota DPR Komisi III Arteria-Dahlan mengklarifikasi soal pernyataannya meminta ganti Kajati yang rapat pakai bahas Sunda.
Arteria menegaskan, yang dia permasalahkan bukan bahasa Sundanya tapi dia mengendus ada bawahan Jaksa Agung yang mencoba cari muka ke Jaksa Agung.
Arteria ngaku pasti dong paham bagaimana penghomatan terhadap suatu bahasa daerah.
Makanya dalam rapat Komisi III dengan Jaksa Agung itu, yang ia maksudkan adalah bukan soal bahasa Sundanya.
“Yang tak bisa kita terima, tiba-tiba masih banyak juga beberapa jaksa coba untuk perlihatkan kedekatannya dengan Pak Jaksa Agung, di forum resmi bicara dengan bahasa Sunda,” kata Artria Dahlan di TV One, Rabu 18 Januari 2022.
Tidak persoalkan bahas Sunda
Untuk itu, Arteria bersikukuh pernyataannya di rapat Komisi III itu bukan pernyataan yang rasis, dan untuk itu dia enggan minta maaf. Sebab dia nggak menyoalkan bahasanya.
“Bukan bahasanya, Kita paham kan ada UU Bahasa, ada penghormatan pada bahas adaerah. Saya minta publik jangan cepat merespons, kita tangkis isu-isu Sunda kita tangkis. Saya bicara itu 15 menit lebih lho di rapat,” jelasnya.
Dalam rapat Komisi III dengan Jaksa Agung pada Senin lalu, Artria meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mengganti Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbicara bahasa Sunda saat rapat.
Arteria tidak menyebutkan siapa Kajati yang dimaksud. Permintaannya itu disampaikan saat Komisi III DPR RI melakukan raker bersama Kejagung di kompleks DPR/MPR pada Senin kemarin.
Minta ganti Kajati ngomong Sunda
Dalam rapat tersebut, mulanya Arteria Dahlan meminta jajaran Kejaksaan Agung profesional dalam bekerja. Kemudian dia menyampaikan kritik pada bagian akhir pernyataannya, ada seorang Kajati yang memakai bahasa Sunda dalam rapat.
“Ada kritik sedikit Pak JA, ada Kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti itu,” ujar Arteria Dahlan dikutip Hops.ID pada Rabu 19 Januari 2022.
Politikus PDIP itu mengatakan, seharusnya Kajati itu menggunakan bahasa Indonesia.
“Kita ini Indonesia pak, jadi orang takut kalau ngomong pakai bahasa Sunda, nanti orang takut ngomong apa dan sebagainya. Kami mohon sekali yang seperti ini dilakukan penindakan tegas,” tegas Arteria.
(nkripost/*Red)











Komentar