oleh

Kisah Dzulqornain Selaras Dengan Wangsit Leluhur Sunda

Kisah Dzulqornain Selaras Dengan Wangsit Leluhur Sund

Penulis oleh : Ambu Rita Laraswati (Pelukis, Seniman & Budayawati)

TINTAJABAR.COM, GARUT – Dulur, jika sudah takdir-Nya (Qs 75: 8-10; 84: 16-18) alias ucap telah jatuh (Qs 27: 82), maka akan banyak peristiwa ramai, aheng terjadi; bahwa “teng” di pukul nya Gong huru-hara akhir zaman dikawitan dari Pulau Jawa; bahwa kata2 Dabbah (gempa besar) akan mendikte (Qs 27: 82) setiap sekalian perubahan (Qs 13: 11); bahwa diskusi dan prediksi tidak dituda diperlukan lagi; bahwa manusia hanya tinggal menyaksikan bukti demi bukti, dalam keadaan sengsara atau dalam keadaan gembira.

Di situ masing-masing fiqih dan ijtihad politik akan diuji dan diseleksi oleh alam atas skenario Allah SWT. Hasilnya ada yg diazab dunia, ada yg dihentikan, ada yang ditinggalkan, dan ada yang diizinkan melaju bersama takdir perubahan ke masa depan.

Di situlah momen ratapan itu, banyak penyesalan dan kepayahan (Qs 2: 249), namun prosedur tobat sudah ditutup (Qs 6: 158), ujian ulangan pun tidak tersedia, transisi peradaban harus terjadi sesuai agenda pergiliran-Nya (Qs 3: 140).

Maaf ampun, jika alam bergerak, di posisi ini alam tak lagi berbasa-basi, tidak tersedia kamus toleransi, karena sudah mendapat mandat dari Yang Maha Kuasa untuk memimpin langsung “kebangkitan individual” (Qs 6: 122) dan “kebangkitan masal.” (Qs 2: 243).

Segala model fiqih dan Ijtihad politik lama akan segera diganti oleh fiqih dan Ijtihad politik akhir zaman (Qs 5: 48) yang simbolik (Qs 3: 7) dan yg asing (HR. “ghuroba”), namun itulah satu2nya fiqih dan ijtihad politik yg adaptif terhadap tuntutan akhir zaman dan fungsional mengantarkan kepada tujuan.

Hari-hari ini masih tersedia waktu untuk berdiskusi, menyelesaikan masalah, memperjuangkab hak, nanti jika momen huru-hara itu telah tiba, tidak ada lagi, semua kesempatan itu lenyap. Jika ada kesempatan dulur ada masalah, permasalahan maka cepat selesaikan dan bersatu padu, bergandengan tangan, jika masalah itu banyak menimpa banyak orang maka perjuangkanlah bersama-sama, jangan cuek dan tidak peduli.
Oleh itu, dipersilahkan berdebat sepuasnya, berdalih sekuatnya, mengambil kesepakatan segera, sebab tak lama lagi debat dan dalih tidak lagi berguna, hasil kesepakatan, gotong royong tidak berguna. Alam akan memaksa dan menggiring hanya ke satu fiqih saja, yaitu fiqih akhir zaman.
Hanya dengan fiqih itulah transisi peradaban di akhir zaman dapat dilalui dengan nyaman, segala rintangan dapat ditaklukkan, dan cita-cita khilafah ‘ala minhaji nubuwah pun akan terwujud.
Biidznillah, Biqudratillah, Kersa Gusti, Kehendak Allah.

Jika mungkin, berubah fiqih sekarang, atau setidaknya bersiaplah. Jika tidak, maka segala fiqih lama akan dipaksa diganti oleh qodrat alam.
Alam yang bergerak untuk memperingatakan, memberi pelajaran. Jika Alam Bicara, manusia tidak bisa berkata- kata.

Selamat datang kuasa waktu (Dzulqarnain), momentum kuasa di mana segala hal akan ditakdirkan berpihak kepada bangkitnya umat.

Umat yang ada dan berada dalam kesadaran sejati.
Saat ini kita semua harus mencari kesadaran agar kita tetap ada dalam kebaikan. Carilah kesadaran diri untuk kebaikan terutama dalam hal “Akhlak”.
Selaraskan diri kita dengan alam, jagalah alam biar alam menjaga kita. Dalam ajaran Sunda di sebut “Jati Sunda”.

Dalam wangsit leluhur Sunda di jelaskan ” Raja buta terus balangsak, tur ka talangsa ku laku lampahna, Dewa na teu aya daya, Karuhun bingung kaduhung, sebab bakal narima hukuman ti nu Agung tetengerna nu paling atra”
Artinya:
Pemimpin yang buta hatinya akan belangsak, sengsara akibat perbuatanya, roh leluhurpun pada bingung, menyesal, karena sudah waktunya menerima hukuman dari Allah Yang Agung. Petunjuk yang paling jelas.

“Sebab kanu beresih hatena, kanu hade laku lampahna, tara sirik,tara hianat ka sasama,anu bakal bisa nganyahokeun kana Tangaranna, sikola lakuning hirup nu haranyang nyaraho kana kanyataan jaman”
Artinya:
Sebab hanya yang bersih hatinya, yang baik kelakuannya, tidak sirik, pidik, tidak hianat pada sesama, yang bisa tahu kenyataan zaman.

” Jig geura marindak, prak geura parigawe, ngan poma sing lantif nyak mikir, cing awas robahna zaman anu bakal datang, gunakeun akal sehat”
Artinya:
Silahkan cepat bergerak, cepat kerjakan, pakai pikiran yang sehat dan baik, waspada pada rubahnya zaman yang akan datang, pakailah kal sehat.

Kekuasan DZulqarnain adalah kekuasan atas kehendak Allah, untuk menumpas kehancuran ahlak buruk yang di lakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj.

Ya’juj dan Ma’juj adalah orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dengan merampas makanan, merampak wilayah, membunuh. Dalam kitab Alquran di jelaskan kaum yang teraniyaya memohon pada Dzulqarain untuk membuatkan dinding pembatas antara kaun tertindas dan Ya’juj dan Ma’juj, lalu di buatkan, dengan ahlak mulia dan berbudi luhur, rasa berbakti dan beriman pada Allah.walaupun sudah mampu membuat dinding pembatas namun tidak menjadi sombong dan berkuasa, Dzulquranin tetap rendah hati, kekuasan hanya milik Allah.

– Dzulqarain adalah sosok pengembara yang kuat, bijaksana,selalu menyeru pada kebaikan.
– Dzulqarain sosok seorang raja (Ibnu Ishaq)
– Dzulqarain adalah sosok Iskandar Al Maqduni, yang menyeru untuk menyembah Allah.

Kekuasan yang di miliki oleh seorang yang berhati suci dan berahlak baik yang dapat membaca zaman.
Kolerasi antara cerita dalam kitab Alquran dan wangsit leluhur Sunda pun menyatu dalam keselarasan, semua dapat kita jadikan tuntunan.

” Kekuatan yang ada di bumi akan musnah pada hari dimana Sangsakala di tiupkan”( Al? Kahfi 98)

“Di mana geus Satria ngajual Bangsana, wong alim bela kafirin,wong cilik pada buncelik, wong edan pada kabagean, ” tah eta moal lila deui ajab ti nu Agung, babandulan maring kiara, bulang baling Anging puyuh, ulah ngadeukeun cai gede simawona mung nangkeup, kudu nyekel ka nu leutik tapi kuat, sing Waspada!!!!
Artinya:
Dimana anak bangsa sudah menjual bangsanya, Orang alim bela orang kafir, orang kecil matanya terbelalak, yang gila akan dapat bagian, nahhh tandanya waktu tidak lama lagi. Ajab dari Yang Maha Agung, di landa pohon tumbang dan anging puyuh, angin besar. Jangan membuat air besar, bisa celaka, peganglah yang kecil, artinya rakyat kecil yang kuat. Yang waspada!!!!

“Prak geura teangan Budak Angon”
( Cepat cari seorang pemimpin, raja yang memilik sifat seperti Dzulkarnain).
Dalam Uga Sunda yang memiliki sifat “SILIWANGI”
Arinya: Cepat cari pemimpin yang memiliki Ahlak yang baik, memiliki sifat Siliwangi.

“Zaman ganti lelakon, unggal zaman ganti lelakon”

Jangan membenci agama apapun, jangan membenci adat budaya siapapun. Mari kita selaraskan dan mensejajarkan agar tercipta teloransi, yang dapat membawa damai hidup di Dunia.

Tabe pun,
Wayah wancina alam nerektek gerak Alam.

Garut, 14 Januari 2022
(Red/AS/Frisca)

banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250

Komentar