Pelestarian Bumi Dengan Penghijauan Kembali Untuk Mensejahterakan Kehidupan Duni
Penulis oleh : Rita Laraswati (Pelukis, Seniman & Budayawati)
TINTAJABAR.COM, GARUT – Sampurasun……….
Betapa pentingnya hidup, agar hidup sejahtera ada beberapa ilmu sebagai rumusan yang dapat di pakai dalam kehidupan, agar berhasil mewujudkan. Ilmu ini adalah ilmu yang Buhun (Kuno) yang ada di tatar Sunda yang di sebut Kitab “SUNDA”.
Dalam kitab SUNDA ilmu itu di sebut ” SANGHYANG DASAKERTA.
Yaitu: Ilmu untuk menegakan sarana kesejahteraan agar dapat hidup lama, lama tinggal di dunia, sukses dalam bidang pertanian, ternak, unggul dalam perang. Ilmu inipun secara global untuk mensejahterakan kehidupan dunia, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang-pangan, bersih halaman depan-belakang, lumbung padi terisi, barang kebutuhan rumah tangga tercukupi, sadapan terpelihara.
Inilah kehidupan yang harus di pelihara agar kita tetap hidup dan lama hidup, sehat jiwa raga.
Seluruh penopang hidup berupa pohon-pohonan, rumput-rumput, semak blukar, rumput merambat hidup subur hijau bak permadani. Segala macam buah- buahan, pepohonan tinggi tersedia meluas, air hujan turun teratur menyirami hingga semua sempurna. Inilah yang di sebut ” SANGHYANG yang merupakan sarana, kehidupan di dunia. Kitab Sunda ini di sebut:

“SANGHYANG SIKSA KANDANG KERESIAN”.
Rumusan kitab Sunda ini sangat selaras dan sejajar dengan Ayat kitab Alquran, dalam surat Ali Imran di sebutkan:
” Di jadikan indah pandangan manusia, kecintaan kepada yang diingini yaitu unta- unta, anak-anak, harta emas, perak, kuda, binatang-bintang ternak, sawah dan ladang, itu karena kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kita kembali yang baik”
( SQ.Ali imran 14 )
Keterangan dari kedua kitab itu, sama-sama menerangkan tentang sarana kehidupan di dunia yang membawa kesejahteran lahir batin. Dan tugas kita manusia menjaga, melestarikan sarana itu, agar tidak rusak dan punah.
Dalam istilah Sunda ngarumat, ngaruwat, ngajaga, ngariksa, ngarawat.
Dari penjelasan ke duanya itu tujuannya agar hidup sejahtera dan merupakan sarana untuk hidup dengan menjaga lingkungan sekitar, maka hidup akan sempurna. Semua perintah dalam ajaran keduanya adalah nilai budaya yang mulia, dan artinya kita sudah menjalankan perintah agama.
Keseimbangan hidup harus terjaga dan wujud nyata di gerakan, inilah hal yang penting semangat rasa rumasa ka sasama, artinya sama sama mahluk Tuhan harus di tumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.
Generasi muda zaman ini harus di ajarkan kembali semangat peduli pada ciptaan Tuhan. Isi dari kitab Sunda dan Islam harus di sejajarkan jadi ajaran untuk pengetahuan generasi muda, bahwa sarana hidup adalah semua yang di ciptakan Tuhan yang ada di lingkungan kita. Sarana yang ada di lingkungan dapat di jadikan nilai ekonomi dan membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pesan leluhur dalam kitab kuno.
Tahun Saka 606 hari kadua bulan terang caitra, waktu taman SrikSetra di buat milik “Dapunta Hyang Sri Jayanaga”

“Semua yang di tanam disini nyiur, pinang, enau, rumbia yang berupa pohon buahnya di makan, serta aur, buluh betung dan tanaman lainnya dengan lebat telaga, semu ku tanam dan di buat untuk kebahagian semua mahluk. Yang bergerak dan tidak bergerak untuk mendapatkan kemakmuran di kemudian hari, untuk semua mendapatkan makanan dan air minum. Semua yang di buat, ladang, kebun luas, ternak, binatang ramai dan tanah subur. Di jauhkan dari penyakit sulit tidur, bencana alam, semua harus berhasil baik, binatang lengkap jauh dari penyakit dan kita manusia awet muda dan panjang umur.
Yang menjadi sahabat jangan mendurhaka, menjadi laki tetaplah setia, istripun begitu. Dimana berada janglah mencuri, curang, bunuh dan zina hendaklah bertemu dengan “Khalyanamitra, membangun Budhi cita”
( Berbudi Luhur ), menjadi pertapa, teguh bersila, semangat bertenaga, ulet, berpengetahuan, pemikiran buruk terhindar. Ingat kelahiran awal, ingat akan masa lampau, indria lengkap, rupa penuh, kebahagian, kegembiraan, ketenangan, kata kata manis, suara brahma, menjadi lelaki karena kekuatan sendiri dapatkanlah cinta Maninidhara, Jatimawacita, Karmmawacita ahirnya mendapatkan “AnuttarabisamyakSambodhi”.
Arti pesan di atas adalah apa saja yang di tanam harus di jaga di lestarikan, di rawat dan dapat berguna untuk kehidupan manusia. Semua yang di ciptakan Tuhan adalah untuk semua mahluk. Berbudi baik, pikiran baik, dan ucapan dan tindakan baik adalah hal yang dapat membuat kesejahteran lahir batin.
Dalam ajaran Islam pelestarian lingkungan merupakan hal yang sangat penting.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagi mu jika kamu orang-orang yang beriman
( Al A,Raf : 85 )
Dan apabila la berpaling dari kamu, ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam- tanaman dan bintang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan ( QS. Al- Baqarah :205 ).
Dari ayat tersebut harusnya manusia dapat merawat dan menjaga alam serta lingkungan.
Menjaga, merawat alam terjaga keseimbangan, jangan berlebihan dalam memanfaatkan. Kewajiban manusia untuk menjaga alam lingkungan.
Pada era ini kesadaran terhadap menjaga dan merawat lingkungan pada generasi muda harus di tumbuhkan, karena merekalah yang akan melanjutkan perjuangan dalam menjaga dan merawat lingkungan agar tercipta kesejahteraan manusia di dunia.
Pada era abad 21 saat ini ilmu -ilmu Leluhur/ kuno tergerus dengan kehidupan moderen, serba praktis tapi membuat kehidupan rusak, lingkungan rusak, daya pikir rusak. Manusia abad ini, tidak matang dalam berproses, sehingga tidak terjun dalam lingkungan nyata.
Hal ini membuat ketidak selarasan dan keseimbangan dalam segala bidang.
Kesejahteran yang di capai tidak membuat kepuasan lahir batin, kesejahteran yang tidak bernilai dan semu.
Abad ini generasi muda harus mempelajari ilmu-ilmu Kuno yang lahir dari penemuan dan pemikiran para ilmuwan pada masa silam, dan di selaraskan dengan ajaran- ajaran lain agar paham dan dapat di aplikasikan dan menjadi obat dalam memperbaiki kerusakan ahlak, kerusakan iman, kerusakan alam.
Generasi muda dapat mengelola sumber alam sekitarnya, dengan kegiatan berbasis budaya lokal dan menghasilkan pendapatan. Paham akan pentingnya melakukan dan manfaat menanam agar lestari, jika lestari maka kita akan hidup berseri, bahagia sampurna lahir batin, bahagia dunia aherat.
Contoh:
-Di desa dapat di kembangkan pertenakan ikan, domba, ayam, perkebunan buah dan sayuran dengan tidak merusak tidak merusak pohon tegakan dll.
– Mengelola hasil bumi di buat kegiatan produksi di pasarkan menjadi kegiatan Ekonomi yang menghasilkan dengan tidak lupa menjaga, merawat dan melestarikan bahan utama yang di produksi.
– Pengembangan desa wisata, dengan edukasi bertanam yang baik dan pendidikan Ekologi.
Dengan memanfaatkan kearifan lokal kegiatan Budaya dari ilmu Ayat, kitab Sunda menjadi pegangan dengan tindakan nyata untuk di laksanakan, amalkan, lestarikan lalu menghasilkan penghasilan dengan tidak merusak lingkungan.
Nabi Muhamad berkata:
“kita tiru Nabi haidir, lebih baik kitaberjalan dengan setiap langkah kita menanam, agar dunia terus menghijau”
Artinya bila bumi hijau, maka oksigen terus di hasilkan, jika oksigen ada maka kehidupan mahluk tetap ada.
Ngantosan ganti wayah,
Wayah wanci Alam usik, manusa amarahna ngulisik kena ku di usik.
Emut lur ” Sunda ngahampura”.
Rampes
Wasalam.
Garut, 30 Januari 2022
(AS/Frisca/tintajabar.com)












Komentar