oleh

Menangkis Isu Kelangkaan Pasokan Gas Bersubsidi 3 Kg Di Garut Selatan, Ini penjelasan Pertamina dan Hiswana Migas

TINTAJABAR.COM, GARUT — Tentang beredarnya Isu kelangkaan bahan bakar gas elpiji bersubdidi 3 kg di wilayah Kabupaten Garut bagian selatan baru-baru ini di media sosial, Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas, yang merupakan asosiasi pengusaha ritel BBM (Bahan Bakar Minyak), Gas, dan lain sebagainya.

Hiswana Migas DPC Kabupaten Garut melalui Humasnya H. Evi Hartaz menggelar konferensi pers di Kantornya, Jalan Otista No.15 – 31, Pasawahan, Kec. Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, dengan tujuan agar isu miring kelangkaan migas dijawab secara proporsional dan profesional, hal ini pula bertujuan agar masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya, Selasa (08/06/2021).

H. Evi Hartaz yang didampingi Sales Brand Manager Wilayah 5 Bandung Risal Arsyad mengatakan hal sebenarnya yang terjadi karena masih banyaknya pengguna gas Bersubsidi 3 Kg dari golongan ekonomi menengah ke atas, hal ini memicu masyarakat yang seharusnya mendapatkan subsidi menjadi sulit mendapatkannya.

“Kasian lah orang – orang yang secara ekonomi di bawah kita, pasti akan kalah dengan orang- orang yang berduit, ketika mereka membutuhkan elpiji 3 kg di warungan sudah habis dibeli oleh orang yang tidak seharusnya menikmati subsidi,” ungkap nya.

Evi mencontohkan kejadian yang menimpa masyarakat di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan elpiji 3 kg, padahal menurutnya pasokan hang selama ini untuk kecamatan tersebut sudah melebihi kebutuhan masyarakat penerima subsidi dengan perhitungan pasokan dengan jumlah 18 Pangkalan
Alokasi 19.290 tabung
Penduduk ci sompet 49000 jumlah KK 14.000 .

“Kita lihat saja pasokan untuk kecamatan Cisompet, sebetulnya mengakomodir kebutuhan warga disana, nah tentunya ada yang salah dengan paradigma masyarakat tentang penggunaan gas Bersubsidi ini,” imbuhnya.

Evi berharap pola pikir masyarakat tentang gas 3 kg ini dapat berubah, terutama bagi pengguna dengan ekonomi mapan, dia mengatakan sebaiknya masyarakat menggunakan gas yang non subsidi 5,5 kg yang jauh lebih hemat dari harga jual gas 3 kg di warungan.

Sementara Sales Brand Manager Wilayah 5 Bandung Risal Arsyad mengatakan, Pertamina sejauh ini telah memasok sesuai dengan kebutuhan, dia memastikan Garut wilayah Selatan jika dilihat dari laporan distribusi sudah dapat memenuhi kebutuhan gas 3 kg yang Bersubsidi.

“Pasokan gas bersubsidi untuk Garut Selatan ini sebenarnya sudah memenuhi kuota yang ada dan masyarakat disana pun banyak yang masih memakai kayu bakar, ini bisa dilihat, masyarakat di sana kesulitan mencari gas bersubsidi 3 kg karena banyaknya pemakaian oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi,” terangnya.

Risal juga mengatakan pihaknya selama ini bekerja sama dengan Hiswana Migas untuk mendistribusikan pasokan gas elpiji 3 kg tidak pernah bermasalah, dirinya menghimbau agar masyarakat berpenghasilan nampan tidak menggunakan gas elpiji 3 kg, dan sebaiknya beralih pada gas non subsidi. (Red/tintajabar.com)

banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250

Komentar