oleh

ICMI Muda Garut, Peduli Terhadap Generasi Muda Sebagai Tulang Punggung Bangsa

TINTAJABAR.COM, GARUT – Sebagai organisasi yang terbilang masih muda belia, ICMI Muda Kab. Garut setelah di Lantik, langsung bergerak cepat melakukan konsolidasi organisasi dan pembinaan kepada anggotanya serta melakukan aksi sosial dan bantuan sosial kepada asrama yatim piatu Aisyiyah Kab. Garut.

Hal tersebut di tuturkan oleh Risqiyadi, SE., M.S.M, Ketua Majelis Pimpinan Daerah (MPD) ICMI Muda Kab. Garut pada saat ngobrol rilexs di Kedai SINAR GARUT milik Aep Saepudin di Jl. Otista No. 164 Tarogong Kaler Garut.

(Photo: Aep.S, jurnalis Tintajabar.com)

Dikatakannya, “Alhamdulilah, setelah kami di Lantik sebagai Ketua MPD ICMI Muda Kab. Garut, langkah awal adalah melakukan konsolidasi organisasi dan pembinaan kepada pengurus dan anggota, selanjutnya kami merealisasikan program jangka pendek yaitu akan melakukan penanaman 1000 pohon dalam waktu dekat, melakukan safari dakwah pada Ramadhan 1443 H dan membantu pembangunan asrama yatim piatu Aisyiyah Garut di jl. Ranggalawe sebagai rasa empati dan kepedulian dari ICMI Muda Garut dalam mendukung program pendidikan di pesantren/asrama sehingga para santrinya merasa betah belajarnya di asrama tersebut. Ungkapnya.

Selanjutnya di jelaskan Risqiyadi bahwa ICMI Muda Garut memiliki beberapa program baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang, salahsatunya untuk jangka pendek kami akan melakukan pembinaan dan kajian-kajian tentang keislaman kepada para generasi muda sebagai tulang punggung bangsa, kemudian melakukan pendekatan dan pencerahan tentang pemahaman radikalisme, dimana dalam agama Islam terorisme serta radikalisme itu dilarang, makanya perlu langkah kongkrit dari ICMI untuk merangkul mereka agar tidak terjerumus kepada pemahaman yang sesat dan menyesatkan. Ujarnya tegas.

Ketika diminta pendapatnya tentang pernyataan Menag yang menganalogikan suara adzan dengan gonggongan anjing, Risqiyadi dengan penuh bijaksana menjelaskan, “apa yang disampaikan oleh Menag tersebut rasanya kurang tepat, kalau menganalogikannya seperti itu, kenapa tidak misalnya dengan suara lonceng di gereja atau hal lainnya yang tidak menyinggung perasaan umat Islam, semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua, agar jangan asbun (asal bunyi) dalam menyampaikan pernyataan ke publik ketika sudah menjadi pejabat, aparat, birokrat dan pengambil keputusan baik itu setingkat menteri, anggota DPR dan lembaga tinggi negara lainnya.” Ucapnya penuh diplomasi. (Red/AS)

banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250

Komentar