oleh

“Babak Baru” Perang Dagang AS – China Ditengah Pandemi Dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia

 

Oleh :
Yoga Ahmad Fauzi S.Pd (*

TINTAJABAR.COM – Terpilihnya Donald Trump menjadi Preside AS menimbulkan banyak kontroversi. Kebijakan yang dibuat oleh Trump selalu menuai komentar dari berbagai pihak. Bahkan beberapa kebijakan Trump mengundang perseteruan dari beberapa pemimpin negara. Salah satu kebijakan Trump yang mengundang perseteruan adalah kebijakannya dalam perdagangan. Yaitu ketika Trump merasa kesal dengan neraca perdagangan negaranya yang defisit sedangkan neraca perdagangan saingannya China selalu saja surplus. Sehingga untuk mencegah hal itu Trump membuat langkah protektif dengan menaikan tarif 25% pada impor baja dan 10% untuk alumunium untuk semua sejumlah negara. Dilansir dari CNN Indonesia kebijakan ini diputuskan pada bulan 08 Maret 2018. Pada tanggal 22 Maret Trump menangguhkan kebijakan tersebut terkecuali negara China.

Tidak tinggal diam, China membalas langkah protektfi yang dilakukan Trump dengan cara yang serupa. Yaitu dengan mendata 128 produk AS akan dikenakan kenaikan bea masuk 15-25%. Langkah yang ditempuh oleh China selanjtnya adalah mengadu kepada WTO (World Trade Organization). Keluhan yang diajukan oleh China tercata pada bulan April 2018.

AS kemudian mengeluarkan kebijakan baru lewat Departemen Perdagangannya dengan melarang perusahaan telekomunikasi China membeli komponen AS selama tujuh taun. Reaksi AS ini kemudian mneghasilkan perundingan antara China dengan AS. Perundingan itu berlangsung di China tepatnya di Beijing. Namun AS dan China sama – sama Kembali dengan tangan kosong karena tidak menghasilkan apa – apa.

19 Mei 2018 China memiliki i’tikad  baik dengan keinginan untuk mengakhiri perang dagang ini. Bahkan ada kesepakatn baru yang dibuat antara China dan AS dimana China sepakat untuk mengurangi surplus neraca perdagangannya secara signifikan.dengan sangat baik hati China menawarkan paket untuk memperbaiki neraca perdagangan AS. Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk menaikan ekspor pertanian dan energi AS.

Selian itu juga, pihak China sepakat untuk menurunkan tarif impor mobil dari 25% menjadi 15%. Namun keputusan – keputusan yang diambil oleh China rupanya tidak membuat Trump puas. Trump mencoba menambhakan tarif 25% terhadap impor China sebesar US$ 50 miliar. Kebijakan baru yang dibuat AS ini mengundang perundingan yang kedua kalinya anatara AS dan China. AS diwakili oleh Menteri Perdagangannya Wilbur Ross bertemu dnegan pihak China. Lagi – lagi perundingan yang diadakan tidak menghasilkan apa – apa.

Juni 2018 China mengajukan proposal pembelian barang senilai US$ 70 miliar. Langkah ini sebagai bentuk peningkatan perdagangan AS. Sayangnya, upaya ini tidak meredakan konflik anatar China dengan AS. Bahkan, pada tanggal 15 Juni 2018 kantor perdagangan AS menerbitkan daftar 1.102 barang impor China seniali US$50 miliar. Sebanyak 813 produk dikenakan tarif 25%. Sementara sisanya masi dalam tahap evaluasi dari pihak AS.

Kemudian Trump memerintahkan perwakilan perdagngan AS untuk mendata barang China senilai US$20 miliar yang kemudian nantinya akan dikenakan tarif lagi sebesar 10%. Sikap Trump ini menimbulkan kritikan dari pihak China. China menganggap AS yang pertama kali memulai perang dagang antara China dengan AS. Balasan dari pihak China yaitu melakukan hal sama dengan membuat 545 produk AS yang bernilai US$54 miliar dan akan dikenakan tarif 25%.. jual beli serangan kebijakan terus dilakukan AS dan China. Hal ini memakan waktu yang cukup lama. Hingga pada akhirnya antara AS dengan China menekan kesepakatan damai dagang fase l. beberapa poin kesepakatan ini adalah China setuju membeli barang dari AS senilai US$200 miliar.

Perjalanan perang dagang AS-China juga terjadi dimasa pandemi. Karena alasan pandemi inilah Trump memfokuskan perhatiannya pada sektor Kesehatan daripada membahas kesepakatan damai dagang fase II. Kedua negara pada tahap selanjutnya lebih memfokuskan diri pada penanganan covid19.
Berakhirnya perang dagang AS_China dengan ditandainya kesepakatan damai dagang berlnagsung selama kurang lebih satu tahun. Pada tahun 2021 dilansir dari CNBC News, China tengah menyiapkan senjata baru untuk mengurangi impor AS. Ini merupakan babak baru perang dagang anatar China dengan AS.
Langkah China dalam mengantisipasi AS cenderung dilakukan secara diam – diam. China dilaporkan mengeluarkan pedoman pengadaan barang baru, yang didalamnya mengatur 100% penggunaan produk luar. Hal ini seperti yang dikutip dari Reuter dapat dibuktikan dengan terbitany dokumen tersebut sejak Mei 2021.
Dokumen tersebut diteruskan oleh China kepada Rumah Sakit, BUMN dan pemeblian milik negara lainnya. Dalam kesepakatan sebelumnya China berjanji untuk tidak mengeluarkan dokumen apapun. Namun dengan fakta ini, China terlihat telah melakukan pelanggaran. Babak baru dalam perang dagang ini jika memang harus terjadi maka akan berada dalam situasi pandemi covid19.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa dunia hari ini sedang dilanda pandemi covid. Pandemi hampir menysar semua negara tidak terkecuali AS dan China. Termasuk didalamnya Indonesia juga terkena dampak dari perang dagang dan juga pandemi covid.

Ternyata adanaya perang dagang ditengah pandemi ini memberikan dampak yang baik bagi Indonesia. Menurut Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bahwa perang daganag China-AS memberikan berkah bagi Indonesia.  Sebab selama AS menutup akses perdagangan kepada China, nilai ekspor Indonesia ke AS meningkat secara signifikan. Indonesia mengalami surplus perdagangan pada Januari 2021 senilai US$6,5 miliar. Bila trend positif ini terus berlanjut bukan sesuatu yang mustahul angka perdagangan Indiensia mencapai diangka US$13 miliar diakhir tahun, dan juga mengalami persentase kenaikan sebesar 30%. Bagaiamana hal itu bisa terjadi? Ditengah pandemi covid mobilitas diseluruh negara dibatasi, sedangkan kebutuhan akan produk tidak bisa tertahankan. Akibat dari pembatasan mobilitas ini ialah pengurangan jumlah produk sehingga suatu negara memerlukan negara lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hal itulah yang dialami Indonesia. Disaat China dan Vietnam kelabakan dalam memenuhi kebutuhan AS, maka AS mengalihkan pembeliannya ke Indonesia. Pada saat itulah Indonesia mengalami keberkahan atas perang dagang dan pandemi covid19.

(* Penulis adalah mantan Ketua Umum HMI Cabang Tasikmalaya Priode 2019-2021

banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250

Komentar