oleh

Mengeluhnya Photograper Senior Khususnya di Garut di Tahun 2021- 2022

TINTAJABAR.COM, GARUT – Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilai harganya, sedangkan sebutan untuk fotografer semakin keren dewasa ini.

Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga Photograper), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa dan dari anak baru, yang penting dapat pekerjaan memotret tidak berpikiran bagaimana cara menggunakan kamera yang baik dan benar dan juga tidak punya keahlian di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung pasti terang gambarnya

Dengan keadaan jaman seakan selalu di Alas (dijatah) oleh pihak kedua apapun pihak ketiga Photograper seolah-olah selalu diasingkan oleh konsumen dan sangat tidak dihargai walupun jasa seni yang sangat langka ini, dengan alat-alat yang digunakan sangat serba mahal dengan modal yang sangat besar, tetapi hasil photo dihargai sangat rendah murah bahkan akhir-akhir ini malah semakin bertambah murah.

Dengan contoh fotograper Wedding maupun sekolahan dan lainnya , misalkan fotograper weding kalau jaman dulu konsumen yang datang langsung ke seorang photograper Atau tukang photo untuk minta dipotret kepada photograper langsung, tetapi kalau sekarang serba di paket dan diatur atau dialas oleh para perias.

Katakanlah Wawan seorang photograper juru foto yang sudah sangat berpengalaman menguasai teknik memotret dan sudah terbilang senior dahulu kalau datang ke
tempat acara-acara seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain sangat disambut dengan baik, tetapi jaman sekarang ini sudah sangat berbeda jauh, jangankan disambut dengan baik dihargai pun tidak sama sekali karena dengan adanya orang kedua selalu di paket.

Sekarang ini para juru foto senior jaman sudah memasuki era digital, keluhan Photograper sebagai juru foto senior merasa tersisihkan oleh para juru foto yang masih muda-muda, yang menurut saya, “Anak-anak muda ini hanya banyak ekting saja dan belum tahu tanggung jawaban nya gimana, dan belum cukup banyak berpengalaman didalam teknik memotret, hasil potretannyapun masih tergolong biasa saja, tetapi seolah-olah anak muda atau fotograper milenial ini ingin menyerobot lahannya seperti sekolahan para juru potret senior, dengan cara membanting harga dengan biasa tarif motret Rp 50.000, para juru foto milenial ini menurunkan tarif dengan harga Rp 40.000 dan sangat murah sekali di hampir setiap ada acara yang sewajarnya tarif lama bisa untuk dinaikan ini malah diturunkan harganya”, keluh photograper senior

Masih keluhan para photograper senior “Dengan cara menurunkan harga ini sangat tidak wajar, ini adalah cara anak muda tukang foto agar sipelanggan berpindah kepada para juru foto milenial, tukang foto senior sudah banyak menguasai konsep, ide-ide yang bagus dan pengambilan sudut gambar yang baik juga, setelah selesai sesi foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan”, keluhnya

Tetapi anak-anak muda yang masih amatiran jaman sekarang ini baru pegang camera asal jepret saja dan hanya gayanya di dahulukan sudah ingin disebut fotograper

Harga foto wedding per-roll berkisaran Rp 250.000 -Rp 300.000, mgazine 1 juta walaupun tarif harga ini sudah hampir 9 tahun, untuk menaikan harga sangat susah. Tukang photo dari tukang photo jaman sekarang dan fotografer profesional sangat berbeda jauh walaupun juga sama-sama mencari uang dari hasil foto. yang berbeda dalam photografi itu tingkatan, ada amatir, semi pro, dan profesional. apa yang membedakan ruang lingkup, objek, peralatan, dan tarif bayarannya, dan yang membedakan tarif adalah kwalitasnya.

Menurut Roni yang biasa dipanggil Ayah Roni seorang photograper senior ini mengatakan, “Khususnya di Kabupaten Garut tolonglah kepada para photograper milenial khususnya kepada yang masih muda untuk lebih bisa menghargai para seniornya dani Roni pun dengan keadaan seperti ini sangat menyayangkan terhadap dunia pemotretan foto sekarang ini, memohon agar ada dibentuknya komunitas yang di payungi oleh badan hukum pengurus photograper agar dibentuk dan dibenahi lagi, karena kami mencari nafkah dari skil memotret, agar nasib kami ini tidak tersisihkan oleh para tukang foto amatiran”, Tegas Roni.
(Frisca/TJc)

banner 300250banner 300250banner 300250banner 300250

Komentar