oleh

Dampak Program Hutan Sosial (Tatanan Adat Sunda)

Dampak Program Hutan Sosial
(Tatanan Adat Sunda

Penulis : Rita Laraswati (Penulis, Pelulis, Seniman dan Budayawati)

TINTAJABAR.COM, GARUT – Hutan adalah Tanah yang luas di tumbuhi pohon yang bermacam- macam, tumbuh di wilayah pegunungan yang tidak di pelihara oleh manusia, tumbuhan
liar yang terjadi secara alami.
Hutan terbagi dari beberapa jenis, hutan belantara, hutan belukar, hutan lindung, hutan perawan, hutan primer, hutan produksi dan masih banyak macam sebutan. Sebutan hutan yang berbeda-beda karena letak yang berbeda, tujuan manfaat yang berbeda, jenis tanaman yang berbeda.

Apakah manfaat hutan?
Hutan sangat bermanfaat untuk manusia dan mahluk lainnya, hutan bermanfaat untuk kehidupan mahluk, karena hutan menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida, sebagai tempat penyerapan air hujan, habitat bagi berbagai macam tumbuhan dan hewan.

Pada zaman nenek moyang kita dahulu, sangat menjaga dan hormat pada hutan. Tiap suku bangsa di Nusantara ini ada adat istiadat yang menjadi kearifan lokal untuk menjaga hutan. Ada beberapa tradisi sakral yang di lakukan apa bila ingin memasuki hutan dan larangan-larangan. Di daerah Sumatra hukum adat di tegakan misalnya larangan menebang pohon di hutan, boleh memetik buahnya tapi pohonnya tidak boleh di tebang, jika memotong kayu untuk kepentingan membuat rumah, bahan kebutuhan lainnya ada upacara yang di haruskan di laksanakan, misalnya memotong hewan kambing, kerbau, bahkan menanam pohon penganti. Hukum adat ini menjadi kekuatan dan pertahanan menjaga hutan, agar hutan tetap sebagai fungsinya.

Di pulau Sulawesi di pulau Buton, masyarakat memiliki prisif dan Adat Budaya untuk menjaga hutan. Prinsip itu bahwa hutan harus di jaga dan di lestarikan. Prinsif masyarakat Sulawesi hutan ibarat Tuhan di dunia, karena di kawasan hutan semua yang di butuhkan manusia untuk kelangsungan hidup ada dalam hutan, tidak menjaga hutan tidak menghargai Tuhan sebagai Pencipta.
Kearipan lokal masyarakat Sulawesi untuk menghormati hutan dengan melakukan upacara memberikan sesajian (sesajen) untuk hutan, sebagai bentuk rasa terimakasih pada Tuhan dan bentuk nyata belas kasih manusia pada alam ciptaan Tuhan. Upacara itu di sebut ” Tutara” Sesajen di bawa ke puncak gunung Siontapina dan memanjatkan doa-doa agar hutan tetap menjadi sumber hidup mereka, penopang hidup mereka sampai anak cucu turunan.

Leluhur Sunda sudah memiliki tatanan dalam mengurus gunung, hutan, air dan tanah. Leluhur Sunda sangat menjaga gunung, hutan, air dan tanah. Leluhur Sunda beranggapan bahwa hutan adalah Karya Cipta Tuhan yang harus di hargai dan merupakan bentuk kasih sayang Tuhan pada hamba Nya.
Leluhur Sunda berprinsif apa yang di ciptakan Tuhan adalah amanah dan amanat yang harus di jaga kelestariannya agar tidak rusak dan punah. Jika punah dan rusak maka akan merugikan hidup manusia itu sendiri.

Dalam pribahasa Sunda “Leweung hejo rakyat ngejo” Artinya jika hutan hijau, tumbuhan semua yang bermanfaat dapat di makan bagi manusia maka manusia akan terus dapat makan, maka manusia akan tetap hidup. Leluhur Sunda sangat percaya bahwa binatang harimau merupakan leluhur manusia, karena harimau hidup di hutan, dan di anggap sebagai penjaga hutan, agar manusia tidak berani masuk hutan dan menebang pohon, merusak hutan. Orang Sunda menyebut binatang harimau itu adalah siliwangi, karena dapat menjaga alam, hal yang baik, menjaga, saling menjaga, orang Sunda menyebut dengan kata Siliwangi. Pada kondisi zaman ini, kita sering mendengar binatang harimau turun ke wilayah rumah masyarakat, hal ini terjadi dikarenakan habitat hutan rusak, makanan hewan yang tidak tersedia. Leluhur Sunda atau orang Sunda sangat menjaga ekosistem lingkungan, karena lingkunganlah yang memberi hidup secara nyata, hakekat Tuhan yang menciptakan hidup, sareatnya manusia yang menjaga, mengembangkan dan melestarikan. untuk bertahan hidup kita manusia yang harus melestarikan dan menjaga.

Leluhur Sunda sudah memiliki tatanan dalam menjaga lingkungan hutan, gunung, air, dan tanah. Dalam keilmuan di sebut “Ekologi” Yaitu ilmu yang mempelajari interaksi organisme dengan lingkungan dan yang lainnya yang merupakan kesatuan atau sistem lingkungan.

Konsep Tatanan Leweung/Hutan Leluhur Sunda ada 3 yaitu :
1. Leweung Baladahan yaitu wilayah gunung yang boleh di lakukan kegiatan produksi, menanam tumbuhan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi dan dapat memenuhi kebutuhan pangan. Zona hutan Baladahan/bukaan ini berada di kaki gunung, ciri alamnya tanah masih datar, adanya sumber mata air, lahan bisa di buat kolam, ada sungai, batas zona ini antara hutan Baladahan dan tutupan adalah titik mata air yang keluar, selebihnya ke atas adalah hutan tutupan, dapat dilihat juga batas dengan tumbuhan pohon, jika hutan memasuki pohon pinus maka itu batas hutan Baladahan, dan wilayah itu dapat di pakai untuk menanam sayuran, palawija, tumbuhan yang hasil jangka waktu pendek.

2. Leweung Tutupan/Hutan lindung.
Leweung tutupan adalah wilayah gunung yang tidak boleh di tanami tanaman palawija dan sayuran, namun harus tamanan pohon keras kayu seperti pinus, pohon kopi, pohon buah-buahan, artinya tanaman yang menghasilkan manfaat untuk kehidupan dan nilai ekonomi tapi pohonnya tidak boleh di tebang. Fungsi dari pohon sangat di lindungi karena sebagai penghasil oksigen, akarnya berfungsi sebagai penyerapan air. Hutan tutupan dapat menjadi hutan produksi dengan aturan yang tidak merusak pohon dan hewan di dalamnya. Apakah hutan tutupan dapat menjadi hutan sosial.? Dapat! namun tanaman yang menghasilkan buah, daun, pohon tidak di tebang. Aturan tatanan leluhur dengan kearifan lokal harus jadi aturan yang kembali di terapkan. Dalam adat budaya Sunda ada aturan ” Pamali” Yang artinya tidak boleh bahkan pantangan, jika dilangar maka akan mengakibatkan kerugian bahkan bencana alam besar dan berujung kematian manusia hewan, tumbuhan. Ciri zona antara hutan tutupan dan hutan larangan biasanya dapat di lihat dari suhu alam, dan kondisi tanah, jenis tanaman. Suhu lebih dingin dan angin kencang biasa nya menandakan batas antara hutan tutupan dan larangan, hutan tutupan sinar matahari masih dapat kita lihat.

3. Leweunga Larangan.
Hutan larangan adalah wilayah Hutan yang sama sekali tidak boleh di lakukan fungsi produksi. Pohon- pohon besar dan tumbuhan apa pun yang ada di dalam hutan di larangan tidak boleh di tebang, apa sebabnya, karena hutan larangan berfungsi sebagai penyerapan air, dan penyangga tebing agar gunung, bukit tidak longsor, penghasil Oksigen, batang yang besar sebagai habitat mahluk hutan yang hidup di pohon agar hewan hutan tidak menganggu lahan produksi di lahan garapan, tidak turun gunung, kebutuhan makanan hewan sangat tergantung pada tumbuhan, daun, buah.
Ciri hutan larangan berada di puncak gunung, biasa cuaca hujan tropis dan banyak tumbuh lumut.
Hewan- hewan buas seperti singa, macan, babi hutan, burung. Hutan larangan adalah habitat yang aman untuk mereka. Dalam tatanan kearifan lokal adat Sunda manusia biasanya di atur dengan kata “Pamali” Jika masuk hutan larangan di takutkan manusia merusak hutan dan menebang pohon dan takut juga manusia di makan oleh hewan buas.

Kearifan lokal budaya Sunda mengatur ketiga hutan tersebut agar tetap lestari, damai semua mahluk. Siklus rantai makanan semua mahluk terjaga, ekosistem yang seimbang dan selaras, hak- hak semua mahluk terpenuhi.

Pada kondisi di bulan September, Oktober, Desember, curah hujan yang meningkat. Banyak kita lihat dan dengar berita banjir bandang, tanah longsor, angin kencang. Mengapa terjadi? Karena ekosistem yang rusak dan hutan sudah tidak lestari. Hutan larangan dan tutupan yang sudah berubah fungsi menjadi hutan produksi, pohon pohon besar di tebang tampa adanya gerakan menanam kembali. Pohon besar di hutan itu adalah sebagai penghalau angin.
Fungsi hutan yang utama sebagai penyerapan air sudah tidak mampu menyerap dengan baik, ahirnya air mengalir dengan membawa tanah, batu, dan menimpa pemukiman masyarakat dan harta benda rumah, ternak, sawah dan kebun rusak.
Manusia hanya ambil manfaat tampa merawat, tampa melestarikan hutan. Orang Sunda sangat menjaga alam, karena alam yang memberi kita, hidup dan kehidupan. Ajaran-ajaran leluhur dahulu harus di sampaikan dan jadi nilai pengetahuan untuk anak cucu kita, agar anak cucu kita paham dan sadar bahwa nilai budi luhur peninggalan leluhur kita dahulu adalah ajaran yang baik dan membawa kebaikan hidup di dunia.

Pemerintah saat ini gembor- gembor mencanangkan hutan sosial untuk di bagikan kepada masyarakat, namun apakah pemerintah sudah menganalisa batas hutan yang dapat di jadikan hutan sosial? Sangat ironis ketika program hutan sosial ini menjadi momok bencana yang bertambah besar. Mengelola tanah, bertani, berkebun harus orang yang ahli di bidangnya jika bukan ahlinya maka tanah akan rusak, hasil tidak baik, bahkan menjadi bencana alam. Program hutan sosial ini harus benar – benar matang untuk di terapkan sebagai program pemerintah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.
” Suatu yang baik, belum tentu hasilnya baik, yang tidak baik akan jauh untuk mendapatkan hasil yang baik”.
Jangan sampai ahli ekonomi mengelola pertanian.
Di bulan Oktober ini bencana banjir hampir terjadi di beberapa wilayah, ada apa? Coba kita tengok gunung, hutan, tanah dan air kita apakah masih lestari, atau sudah rusak, gundul. Mari kita semua meningkatkan kesadaran akan alam adalah sumber utama kehidupan kita di dunia.

 

Garut, 18 Oktober 2022
(AS/TJc)

banner 300250banner 300250banner 300250banner 300250

Komentar