oleh

Rickha Rismawati, Ada Kebanggaan Tersendiri Ketika Mengajar di Kelas

TINTAJABAR.COM, GARUT – Profesi Guru pada saat ini banyak di minati oleh para generasi muda, mungkin karena adanya perhatian pemerintah yang telah menempatkan profesi guru ke tempat yang terhormat dengan pemberian insentif dan tunjangan profesi guru yang lumayan bisa menutupi sebagian kebutuhan hidupnya.

Seperti yang dijalani oleh Rickha Rismawati Wijaya, S.Pd yang sudah hampir 12 tahun mengabdikan dirinya untuk menjadi seorang guru kelas di SDN 2 Cihuni Kec. Pangatikan Kab. Garut.

Ketika dikonfirmasi pada saat mengikuti workshop peningkatan muttu guru yang di laksanakan oleh DPP FAGAR di Aula Kantor BJB Garut, (31/1). Rickha menjelaskan tentang awal mula menjadi guru, “Alhamdulilah abdi janten guru SD ti taun 2010 ngawitan lebet di SDN Sukamenak 6 Wanaraja, terus ngalih ka SDN 2 Cihuni dina tahun 2016 dugi ka ayena, pokoknya enaak jadi guru mah. Ucapnya penuh kebanggaan.

Selanjutnya di katakan Rickha, Wanita kelahiran tahun 1989 dan telah di karuniai 1 orang putra ini, telah mencoba untuk merubah nasibnya supaya menjadi ASN P3K, “Kamari abdi ngiring test P3K, namung zonk, teacan berhasil, mudah-mudahan tahun 2022 ada jodohnya saya bisa lulus jadi ASN P3K.”. Imbuhnya penuh harap.

Lebih lanjut Rickha Rismawati yang telah berhasil meraih gelar S.Pd di UNPAS Bandung mengatakan tentang “Motivasi saya mau jadi guru, nu utamina namah panggilan jiwa, oge kahoyong sepuh. Cuman setelah di dalemi janten guru ternyata ada kepuasan tersendiri, ketika si anak berprestasi, yang tadinya tidak bisa jadi bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Ini ada kebanggaan buat saya karena telah berupaya mendukung program pemerintah tentang wajardikdas 12 tahun untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berpengetahuan, beriman, bertaqwa serta berakhlaqul karimah.” Ujarnya penuh semangat.

Diakhir perbincangannya Rickha Rismawati menuturkan kisah dan pengalaman yang paling berharga dalam hidupnya, “Ya itu tadi banyak sekali kesan nya, saya tidak bisa meninggalkan anak anak, apalagi ketika anak itu berhasil dan berterima kasih. Asa hoyong nangis ketika di peluk sama orangtuanya sambil bilang, haturnuhun ibu, abdi bangga ka ibu.” . Ungkapnya penuh kebanggaan.
(AS/tintajabar.com)

banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250 banner 300250

Komentar