TINTAJABAR.COM, CIREBON – Perebutan takhta di Keraton Kasepuhan Cirebon masih berlanjut. Kini bahkan kembali muncul sultan baru di Kesultanan Kasepuhan Cirebon.
Seorang pria bernama Wisnu Lesmana Nugraha mengaku keturunan sultan Kasepuhan dan menggelar prosesi jumenengan atau penobatan sebagai Pangeran Jayawikarta III, Rabu, 20 Oktober 2021.
Wisnu Lesmana Nugraha mengklaim berhak atas gelar dan takhta Kesultanan Kasepuhan Cirebon sebab merupakan keturunan Sultan Sepuh IV.
Dalam hal ini, dia mengaku sebagai pewaris Pangeran Ilen Seminingrat bin Pangeran Pakis Haji Seminigrat yang memiliki garis keturunan (nasab) Pangeran Jayawikarta bin Sultan Sepuh IV Amir Sena.
Prosesi jumenengan Wisnu Lesmana Nugraha digelar di Komplek Magersari, Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Lokasinya tak jauh dari Keraton Kesultanan Kasepuhan Cirebon, tempat Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin tinggal.
Jumenengan Wisnu Lesmana Nugraha sebagai Pangeran Jayawikarta III menyeruak di tengah konflik Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin dan Rahardjo Djali atau Sultan Aloeda II, pria yang juga mengklaim berhak atas Kesultanan Kasepuhan Cirebon sebab mengaku sebagai keturunan Sultan Sepuh XI.
Juru bicara adat Pangeran Jayawikarta III, Muhamad Anas meyakinkan, Pangeran Ilen Seminingrat merupakan trah murni Sunan Gunung Jati. Karena itu, sejatinya Pangeran Ilen Seminingrat berhak atas Kesultanan Cirebon.
“Pangeran Ilen Seminingrat sudah memberikan data yang menurut kami otentik dan valid, beliau ada trah murni Sunan Gunung Jati,” ungkapnya seusai jumenengan.
Bukti yang menguatkan status Wisnu Lesmana Nugraha sebagai keturunan murni Sunan Gunung Jati antara lain berupa akta kelahiran yang menegaskan sang ayah, Pangeran Ilen Seminingrat, merupakan seorang raja. Mereka bahkan siap menjalani tes DNA bila diperlukan.
“Kami enggak takut tes DNA, kalau memang harus. Saya yakin, dengan tes DNA itu kita akan tahu siapa sih sebenarnya pangeran keturunan Sunan Gunung Jati,” tegas Anas.
Pangeran Ilen Seminingrat sendiri saat ini telah wafat. Menurutnya, semasa hidup, dia kerap menyebut sultan di Kesultanan Kasepuhan saat ini bukanlah pemimpin yang seharusnya.
Wafatnya Ilen Seminingrat, lanjutnya, praktis menjadikan keturunannya yakni Wisnu Lesmana Nugraha sebagai yang seharusnya menduduki kursi sultan di Kesultanan Kasepuhan Cirebon.
“Kami yakin, sultan seharusnya adalah Pangeran Ilen Seminingrat dan keturunannya,” ujar Anas.
Jumenengan atas Wisnu Lesmana Nugraha sebagai Pangeran Jayawikarta III sendiri dipandangnya merupakan upaya pelurusan sejarah.
Di tengah kisruh Kesultanan Kasepuhan Cirebon saat ini, pihaknya menghendaki komunikasi bersama. Pihak Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin maupun Rahardjo Djali diminta mau duduk bersama untuk saling adu data mengenai keturunan asli Sunan Gunung Jati yang berhak atas Kesultanan Kasepuhan Cirebon.
“Kalau nanti kami ternyata bukan yang seharusnya (atas Kesultanan Kasepuhan), ya kami mundur. Tapi, yang lain (kubu Luqman Zulkaedin dan Rahardho Djali) juga begitu (mundur),” pintanya.
Dalam jumenengan itu, Wisnu Lesmana Nugraha menegaskan dirinya sebagai pewaris Pangeran Ilen Seminingrat yang sejatinya berhak atas Kesultanan Kasepuhan Cirebon.
Sementara, menurutnya, Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin tidaklah berhak sebab dinilai bukan keturunan murni Sunan Gunung Jati. Pendahulu Luqman Zulkaedin, Sultan Sepuh XII Alexander Rajaningrat (Sultan Sepuh XII Raja Rajaningrat), dianggap sebagai hasil ciptaan pemerintah Belanda yang dulu memiliki kepentingan politik ekonomi di Cirebon.
“Alexander adalah anak ideologis kepentingan VOC (Belanda),” ujar Wisnu Lesmana Nugraha saat membacakan pernyataan sikap seusai jumenengan.
Wisnu memandang, Alexander adalah alat propaganda Belanda dan keberadaannya merupakan kekeliruan hingga akhirnya mengubah kesejatian Sultan Gunung Jati di Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Dia pun menyebut, akibat itu, keturunan Alexander pun menjadi korban.
Saat ini, tegasnya, kolonialisme Belanda di Cirebon sudah usai. Di bawah bendera NKRI, dia pun menganggap punya hak untuk mengembalikan fakta sejarah raja dan sultan pribumi, khususnya di Kesultanan Kasepuhan.
Dalam kesempatan itu, dia pun menyelipkan pesan kepada Luqman Zulkaedin dan Rahardjo Djali untuk duduk bersama dan bermusyawarah.
“Kita adalah saudara, tidak elok jika bertikai. Mari duduk bersama, tabayyun (mencari kejelasan, meneliti) dengan bermusyawarah. Tunjukkan data dan fakta secara ksatria demi mengembalikan marwah (kehormatan) Kesultanan Kasepuhan,” ajak Wisnu Lesmana Nugraha.
(Red/TJc)











Komentar