Kaum Buruh Indonesia dari Budaya Agraris dan Maritiem yang Tersesat di Kawasan Industri
Penulis Oleh : Jacob Ereste

TINTAJABAR.COM, BANTEN – Geobudaya kita memang telah menggambarkan adanya buruh tani, bukan buruh industri. Maka itu buruh industri yang dominan adanya sekarang mereka yang tercerabut dari akar budaya dan tradisi kita yang bercocok kerja di kawasan industri.
Akibatnya, semangat tradisi gotong royong, kebersamaan yang guyub dan hasrat untuk tolong menolong hilang tertelan oleh sikap individualisme sebagai buah nyata dari kapitalisme, materialisme.
Karena itu takaran keberhasilan jadi bukan prestasi, reputasi, dedikasi, tetapi Gong gini yang wah dan melimpah. Mulai dari sandang harus mewah, pangan harus melimpah ruah, tiada bagian untuk yang miskin dan papa untuk ikut menikmati atas sikap manusiwi yang beradab seperti dalam sila Oancasila maupun priabule UUD 1945.
Kemerosotan hasil bumi negeri kita bisa ditandai sejak awal abad ke 20 hingga Indonesia Merdeka sampai sekarang. Selama kemerdekaan kita hanya beberapa kali saja mengalami swasembada beras. Selebihnya paceklik nyaris sepanjang tahun. Dan nostalgia tentang masa kejayaan buah pala, cengkih, damar, rotan, Kelapa dan koperasi hingga getah karet, kopi maupun jagung serta kacang kedelai, bahkan air nira cuma tinggal kenangan dan khayalan belaka sekarang.
Begitu juga dengan buah-buahan, duku, salak, durian, mangga dan manggil hingga cepetan dan buah pelem yang tinggal cuma rasa kangen belaka. Sementara ternak, seingat saya di Lampung mampu mencukupi kebutuhan daging sapi dan kerbau, ayam, bebek. Apalagi cuma ikan air tawar dan laut yang melimpah ruah seperti sayur Mayor di semua tempat dan daerah.
Jadi orientasi pembangunan kita yang mengarah pada industri manufaktur hanya membebek saja, mengikuti selera penanam modal yang orientasinya untuk memonopoli keuntungan materi saja, bukan untuk ketahanan pangan dan budaya bangsa maritiem dan agraris yang sudah sedemikian kuat sejak jaman para leluhur. Dalam sebuah penelitian, pada masa Mahapahit, penghasilan para penduduk pada masa itu rata-rata Rp 15 juta per hari dengan conversi standar harga beras di pasar.
Agaknya, karena itu istilah gemah ripah loh jinawi bukan untuk mengolok-olok kondisi riil warga masyakat Indonesia pada hari ini yang masih dominan bertanya cemas; makan apa kita besok. Sementara yang lain juga veranya; siapa yang kita makan besok.
Demikianlah kondisi nyata hari ini yang kita hadapi. Hanya mereka yang hipokrit saja yang mampu menyanggah, tapi tidak hendak menjawab dengan cara memberikan jalan keluar dari kemiskinan dan kesusahan yang terus merundung warga bangsa yang sudah nyaris seabad merdeka.
Kalau saja peta perjalanan budaya suku bangsa Indonesia yang bermula pada Nusantara, bergerak dari budaya agraris dan maritiem menuju budaya industri, tampaknya perlu arus balik dalam konteks budaya perlu untuk segera dipertimbangkan dari ketersesatan untuk kembali menekuni budaya maritiem dan agraris yang lebih humanis dan ekonomis.
Jakarta, 19 Agustus 2022
(Frisca/tintajabar.com)








Komentar