Laku Spiritual Sebagai Upaya Pengendalian Birahi Kekuasaan yang Kemaruk dan Raku
Penulis Oleh : Jacob Ereste

TINTAJABAR.COM, BANTEN – Upaya untuk membangun kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual itu, agar segenap warga bangsa Indonesia bisa secara bertahap terus menerus mengingat Tuhan. Bahwa hidup itu tidaklah semata untuk semua hal yang bersifat duniawi, tapi juga ruhani.
Materi boleh saja berlimpah, tapi itu tidak akan dapat dibawa mati. Kecuali ditetapkan kepada yayasan kemanusiaan, mulai dari pesantren hingga pengurus panti jompo. Karena setiap orang harus percaya bahwa yang dibawa mati itu adalah amal dan perbuatan yang baik, bukan suami atau istri yang baik. Apalagi hanya sekedar rumah dan mobil yang mewah dan baik.
Anak yang baik pun cuma bisa sekedar ikut mendo’akan kita untuk menikmati sisa hidup dengan baik. Menikmati masa tua dengan baik dan mati secara baik-baik.
Karena bolehlah dipercaya bahwa bukan hanya hidup yang bisa dilalui dengan tidak baik. Serba susah dan didera derita sepanjang hidup, tapi juga ketika mari pun bisa sangat memalukan hati bagi mereka yang ditinggalkan.
Karena itu, berdo’a agar mati secara baik-baik pun merupakan cara memasuki alam spiritual, bila sesungguhnya manusia tidak memiliki kemampuan penuh atas dirinya sendiri. Sebab untuk memilih cara mati pun, tidak bisa ditentukan sendiri. Kecuali hendak melawan kodrad dan ibadat yang sudah ditentukan Tuhan.
Maka itu, umumnya kaum muslimin yang baik, tidak sedikit yang berdoa agar bisa mati saat seusai menunaikan ibadah haji di Makkah. Sebab pada umumnya percaya bila menghembuskan nafas yang terakhir di tanah suci itu menjadi pertanda penerimaan Allah SWT bagi yang mengalaminya akan berada di sisi Allah.
Kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual perlu dikabarkan di Indonesia agar orientasi pemikiran dan sikap hingga perbuatan manusia Indonesia tidak semakin kalau mengejar hal-hal yanv bersifat duniawi. Termasuk mengunggulkan cara berpikir yang cenderung mengabaikan hati atau rasa yang sifatnya dominan rohaniah atau ilahiah. Sehingga hal-hal yang bersifat duniawi (materi) tidak semakin membius, hingga hasrat — bahkan nafsu — untuk lebih cepat kaya termasuk berkuasa — jadi menghalalkan segala cara.
Fenomena korupsi yang semakin marak adalah bagian dari indikasi pendorong para pelaku spiritual mengajak untuk merapatkan daftar memasuki wilayah spiritual, supaya dapat mengerem atau bahkan menghentikan sama sekali sikap dan sifat tamak, rakus, culas, khianat atau bahkan munafik serta ingkar dari tuntunan Illahi Rabbi yang sepatutnya dipercaya dan dipatuji tuntunan dan ajarannya untuk melakukan hal-h yang baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain, dan menjauhi atau bahkan mampu untuk meninggalkan sikap dan sifat serta perilaku yang buruk, bukan hanya terhadap orang lain, tetapi juga bagi dan untuk dirinya masing-masing.
Gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi bangsa Indinesia patut dan perlu dilakukan, bukan cuma karena potensi dan energi untuk itu sungguh dimiliki oleh warga bangsa Indonesia yang telah diwakili secara turun temurun sejak masa jasanya suku bangsa kita di Nusantara, tetapi energi dan kekuatan spiritual yang dimilik oleh suku bangsa Nusantara sungguh luar biasa dan mampu menjadi panutan manusia di muka bumi.
Kecuali itu, energi dan potensi spiritual suku bangsa Nusantara dapat menjadi nilai lebih yang unggul dibanding dengan bzngsa-bangsa lain di dunia yang masih pongah dengan daya nakar dan kemampuan pemikirannya yang sesungguhnya tidak mungkin melampaui daya jangkau spiritual yang tidak terbatas, seperti kemampuan mi’rad Nabi Besar Muhammad SAW mampu mencapai langit yang ketujuh.
Demikian juga mukjizat Nabi Isa AS — atau yang diyakini kaum Nasrani sebagai Tuhan Yesus — sungguh sangat menakjubkan, sebagaimana kisah para Nabi dan Rasul serta Wali yang cuma ada dan sangat kita percaya memberi banyak berkah bagi manusia yang ada pada zaman berikutnya.
Energi dan potensi spiritual yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Tumur — sungguh mengagumkan — sehingga cukup meyakinkan bahwa angsa Timur memang merupakan bangsa terpilih sebagai kekasih Tuhan, tidak cuma ditandai oleh kekayaan alam dengan segenap flora dan fauna yang ada, tetapi dalam beragam bentuk keajaiban kaliber dunia yang tak tertandingi.
Begitulah keberadaan Candi Borobudur, Kalasan, Mendut dan sebagainya yang ada di Jawa, sementara Candi Muara Takus dan Muara Tebo yang ada di Sumatra pasti tak sedikit menyimpan sejarah masa silam kejayaan dari Bangs Nusantara yang pada dasarnya sangat religius dan memiliki kekayaan cara menjalankan laku spiritualnya yang khas di setiap tempat.
Setidaknya, mulai adanya gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual, kalau pun belum sepenuhnya bisa segera menghentikan peilaku berat– terutama dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan di Indonesia — bisalah sedikit mengerem untuk tidak semakin gila-gilaan dan ugal-ugalan membuat kerusakan, tak hanya etika dan moral serta akhlak, tapi juga alam lingkungan serta tatanan sosial masyarakat dalam perilaku segari-hari.
Atau, paling setidaknya, tidak ikut tergulung arus yang makin galau pada harta dan kekuasaan yang abai pada terhadap etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Oleh karena itu, harapan muncul dan tampilnya para wali spiritual seperti yang digagas GMRI (Gerakan Moral Rekknsiliasi Indonesia) yang dikomando Eko Sriyanto Galgendu dan kawan-kawan, patut didukung dengan cara dan kemampuan masing-masing seperti membuat kelompok kajian, paguyuban atau komunitas diskusi mengenai hal ikhwal spiritual dari beragam bilik agama dalam model caranya yang terbaik menuju keharibaan Tuhan.
Banten, 19 Juli 2022
(Frisca/tintajabar.com)








Komentar