oleh

Nilai-nilai Spiritual Dalam Peringatan 17 Agustus 1945-2022 yang Patut dan Perlu Direnungkan

Nilai-nilai Spiritual Dalam Peringatan 17 Agustus 1945-2022 yang Patut dan Perlu Direnungka

Penulis Oleh : Jacob Ereste

TINTAJABAR.COM, BANTEN – Hikmah dari berbagai kejadian itu memang perlu sikap bijak untuk memetik rahasia Allah sebagai pertanda untuk mawas diri dan mengevaluasi segenap apa yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Kejadian pemasangan bendera terbalik pada upacara 17 Agustus 2022 di Kecamatan Keruak, Lombok Timur bagi seorang pelaku spiritual di daerah setempat yang diminta konfirmasi kebenaran dari peristiwa yang disebut sebagai insiden itu, adalah isyarat untuk lebih mawas diri, atau semacam evaluasi bagi segenap pihak. Karena persiapan untuk acara pengobatan bendera itu telah dipersiapkan secara seksama, namun kejadian juga hal-hal yang tidak diinginkan.

Adapun isyarat dari terpasangnya bendera terbalik itu, bagi pemerintah daerah setempat– tapi juga bagus untuk cermin diri bagi pemerintah pusat — adanya sesuatu yang perlu dikoreksi ulang, agar kajian yang lebih memalukan tidak sampai terjadi bagi segenap warga bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Sikap ugahari untuk bercermin diri ini, selaras dengan sikap bijak para leluhur yang menyarankan untuk selalu “eling lan waspodo”.

Artinya, janganlah terlalu asyik mengejar hal-hal yang bersifat duniawi, sementara yang bathin semakin dilupakan atau bahkan disingkarkan, karena mabuk lahirlah dan abai pada banyak hal yang terkait dengan batiniah.

Upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 77 pun sifatnya harus lebih berat diboboti oleh hal-hal yang bersifat batiniah. Katena hanya dengan begitu makna dan hakekat kemerdekaan yang sejati itu– seperti yang menjadi tujuan luhur dari upaya para pejuang merdekaan bangsa Indonesia bisa diserap menjadi energi yang ampuh untuk mengisi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia lebih bermakna bagi semua pihak.

Sebab tidak buah kemerdekaan — seperti apapun pahit dan manisnya– harus dapat dipercaya oleh segenap anak bangsa sebagai pewaris sah negeri ini yang ditebus dengan sepenuh jiwa dan raga para leluhur kita.

Karena itu serangkaian acara menyambut peringatan hari kemerdekaan 77 tahun Indonesia dengan tirakat ala tradisi masyarakat pada malam hari hingga detik-detik proklamasi patut dipahami memiliki nilai spiritual yang patut dijaga untuk mempetkukuh konsistensi serta kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia yang sungguh mulia dan luhur itu.

Bayangkan saja, bukan cuma penjajahan di negeri kita sendiri yang harus dihapuskan, tetapi penjajahan di atas dunia — termasuk untuk bangsa lain di dunia — telah menjadi tekad dan komitmen bangsa Indonesia yang kelak sangat diharap dapat memimpin dunia.

Pemahaman terhadap bangsa Indonesia yang kelak akan memimpin dunia, tentu saja tidak perlu diartikan dalam perspektif politik kekuasaan, tetapi patut disadari dalam pengertian budaya (yang meliputi) sosial, ekonomi dan gerakan spiritual yang tengah menjadi primadona unggulan untuk menjawab berbagai dilema manusia pada abad milineal sekarang ini akibat ambruknya tatanan etika, moral dan akhlak yang semakin abai pada tuntunan Tuhan.

Jadi kejadian bendera terbalik pada upacara di Keruak, Lombok Timur itu bukan insiden, tetapi semacam isyarat bagi setiap warga bangsa Indonesia dalam memainkan peran untuk menata bangsa dan negara Indonesia agar dapat lebih baik, mandiri, berdaulat, berkepribadian luhur seperti yang terkandung dalam nilai-nilai kearifan lokal suku bangsa kita yang pernah membuktikan masa kejayaannya melalui negara Kutai Kertanegara, Majapajit, hingga Sriwijaya dan Pasundan.

Banten, 17 Agustus 2022

(Frisca/tintajabar.com)

banner 300250banner 300250banner 300250banner 300250

Komentar