TINTAJABAR.CO, GARUT – “Salahsatu program yang menjadi perhatian kami adalah menitikberatkan pada kedisiplinan siswa untuk bisa tepat waktu masuk kelas, tepat masuk sekolah tidak ada yang alfa dan tepat dalam belajar di kelas, kenapa ini menjadi bagian utama karena para siswa di sini kebanyakan orang yang kurang mampu, anak yatim piatu, anak korban perceraian dan kebanyakan orangtuanya termasuk pada kategori kurang mampu.” Demikian di sampaikan Dra. Hj. Elin Kustini Kepala SMA PGRI Garut di ruang kerjanya, Selasa, 13 Sept 2022.
Selanjutnya di tuturkan Hj. Elin yang mulai menjabat sebagai Kepala Sekolah sejak tahun 2007, “banyak suka dan dukanya ketika saya bertugas di sini sebagai guru, wali kelas, wakesek dan menjadi Kepala Sekolah, pokoknya kami bersama para guru yang lainnya berjibaku bagaimana agar para siswa betah sekolah disini, mereka perlu perhatian dari sekolah, kebanyakan para orang tua siswa, mereka kerjanya serabutan/buruh lepas jadi sabodo amat/sesukanya anaknya mau sekolah atau tidak, maka ketika ada siswa yang benar-benar harus di bantu maka saya bantu, disini tidak ada SPP, malah sebagian besar siswa-nya dikasih seragam dan di kasih uang transpor. Ujarnya penuh semangat.
“Bahkan suatu hari saya melihat ada siswa tidak pakai sepatu, saya tanya kenapa tidak pakai sepatu, jawabnya lagi di cuci, besoknya sama saya lihat tidak pake sepatu lagi, akhirnya saya penasaran untuk kroscek ke rumahnya, ternyata sepatunya sudah mau hampir putus dan di tutupi pake plastik, maka besoknya saya memutuskan untuk membelikan sepatu bagi siswa tersebut.”. Imbuh Bu Elin Kustini penuh haru.
Lebih lanjut, Hj. Elin yang juga menjabat sebagai pengurus FKSS SMA Kab. Garut, mengatakan, “Dari sekian banyak siswa, kebanyakan alumninya bekerja di pabrik, kuli pasar dan sebagian kecil (1%) yang kuliah, jadi tidak benar ada yang mengatakan bahwa SMA PGRI Garut banyak menerima bantuan pasca musibah banjir kemarin, perlu saya tegaskan tidak ada bantuan dari Pihak Pemkab. Garut. Cetusnya.
“Yang memberikan bantuan langsung baik uang maupun pakaian atau sembako, semuanya adalah hasil swadaya dari para guru, kepala sekolah dan saudara-saudara saya, alhamdulilah mereka telah memberikan sebagian rezekinya dengan cara pembagian sembako kepada warga masyarakat yang terdampak banjir. Ungkapnya.
“Alhamdulilah disini tidak ada iuran SPP, semuanya murni dari pemasukan BOS dan BPMU, dengan dana tersebut bisa saya maksimalkan untuk keperluan peng-gajian guru, ATK dan proses kegiatan belajar mengajar secara full 100% tatap muka. Ini semua kami lakukan agar para siswa dan guru merasa memiliki, cinta dan mau bersekolah di SMA PGRI Garut, soal raihan prestasi dan kejuaraan itu bukan target utama, yang paling utama adalah modal kedisiplinan, insya Allah kalau sudah disiplin akan menyusul secara otomatis prestasi yang akan di raih dalam segala bidang baik akademik maupun non akademik.” Ucapnya penuh diplomasi.
Diakhir perbincangan Kepala SMA PGRI Garut mengatakan bahwa jumlah siswa ada 75 orang, Rombel 3 kelas, Guru 20 orang, sedangkan untuk jurusannya ada 2, untuk kelas reguler jurusan IPA sedangkan untuk kelas SMA Terbuka mengambil jurusan IPS. Pungkasnya.
(AS/TJc)









Komentar